Sri Sultan HB ke-1
Asal-usul PERMAINAN 'Jemparingan', atau lengkapnya: Jemparingan Mataraman gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono ke-I (1755-1792), mengajarkan filosofi :
PAMENTHANGING GANDHEWA - PEMANTHENGING CIPTA"
~ Merentang busur, mengincar sasaran BUKAN dg paningal / mata jasmani, melainkan MENGINCAR sasaran dg CIPTA / manah / hati / roso ~
Untuk diketahui, jaman itu orang Jawa / Mataram Yogyakarta BELUM terpengaruh budaya Barat memanah dg dilihat menggunakan mata.
Bahkan, SENAPAN milik Kraton Yogyakarta saat diserbu tentara Spoy pun (era Sri Sultan HB II) BELUM BISA diincar dg mata, karena percikan mesiu bisa melukai mata prajurit.
Jenis senapan tentara Spoy SUDAH lebih MODERN, bisa dibidik dg mata sehingga lebih akurat.
Kasultanan Yogyakarta TIDAK memiliki PRAJURIT RESMI (bregodo) yg khusus bersenjata panah / jemparing.
panah atau jemparing hanya digunakan oleh LASKAR / kesatuan prajurit PRIBADI milik pangeran atau pengikut Sri Sultan.
Satu-satunya bregodo prajurit Kraton Yogyakarta yang memegang busur panah hanya Prajurit Nyutro. Itupun sejak awal kraton berdiri BUKAN bredogo prajurit UNTUK PERANG.


