Posts

Target Wong-wongan di KDB.Kemandungan

Image
Target jemparingan di kraton Yogyakarta namanya : lesan , atau wong-wongan (boneka orang-orangan dari jerami) Wong-wongan bentuknya silinder, terdiri dari 3 warna : MERAH (mustoko / kepala), nilainya 3 poin;  KUNING (jonggo / leher), nilainya 2 poin;  PUTIH (awak / badan), nilainya 1 poin; DAN  di bagian bawah badan ada bola, namanya POCONG (pantat), bila mengenai pocong nilainya dikurangi 1. 

Jemparingan Keraton Jogja (Nyenyep)

Image
Berikut ini saya tampilkan detail nyenyep   ( nock ) pada jemparing atau anak panah gagrag jemparingan keraton Jogja. # Detail Nyenyep Museum P. DIPONEGORO Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memang tidak memiliki bregodo prajurit kraton yang KHUSUS bersenjata panah. Kraton Yogya mewarisi bregodo (kesatuan) prajurit Nyutro dari era Mataram islam (di Kasunanan Surakarta namanya : Panyutra); namun berdasar buku Ensiklopedi Kraton Yogyakarta, Prajurit Nyutro sejak awal kasultanan berdiri TIDAK untuk berperang, dan hanya berfungsi sebagai prajurit klangenan. Sumber sejarah jemparingan keraton Jogja masih bisa kita temukan di koleksi Museum Pangeran Diponegoro, di Tegalrejo Yogyakarta. Berikut ini model 'nyenyep' yang dipakai laskar / pasukan Diponegoro yang masih tersimpan baik hingga sekarang.    # Detail Nyenyep Museum SONOBUDOYO, Yogya BERBEDA dengan koleksi Museum Pangeran Diponegoro, di Museum Sonobudoyo karaton Ngayogyakarta Hadiningrat model nyenyep-nya lebih MEWAH dan M...

Sri Sultan HB ke-1

Image
  Asal-usul PERMAINAN 'Jemparingan', atau lengkapnya: Jemparingan Mataraman gaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono ke-I (1755-1792), mengajarkan filosofi : PAMENTHANGING GANDHEWA - PEMANTHENGING CIPTA" ~ Merentang busur, mengincar sasaran BUKAN dg paningal / mata jasmani, melainkan MENGINCAR sasaran dg CIPTA / manah / hati / roso ~ Untuk diketahui, jaman itu orang Jawa / Mataram Yogyakarta BELUM terpengaruh budaya Barat memanah dg dilihat menggunakan mata. Bahkan, SENAPAN milik Kraton Yogyakarta saat diserbu tentara Spoy pun (era Sri Sultan HB II) BELUM BISA diincar dg mata, karena percikan mesiu bisa melukai mata prajurit. Jenis senapan tentara Spoy SUDAH lebih MODERN, bisa dibidik dg mata sehingga lebih akurat. Kasultanan Yogyakarta TIDAK memiliki PRAJURIT RESMI (bregodo) yg khusus bersenjata panah / jemparing. panah atau jemparing hanya digunakan oleh LASKAR / kesatuan prajurit PR...

Macapat

Image
Belajar tembang macapat di Kraton Jogja

Prajurit Kraton Jogja : Bregada Langenkusuma

Image
  Terbentuknya Korps Prajurit Estri tahun 1750-1810 selain sebagai prajurit militer juga bertujuan untuk menjaga keamanan keraton dan menjadi pengawal pribadi Sultan Hamengkubuwana II.  Peran prajurit perempuan terhadap perkembangan ekonomi yaitu ikut dalam kegiatan masyarakat seperti memberikan bantuan berupa bibit tanaman, dan pupuk. Hal ini berdampak semakin meningkatnya ekonomi rakyat.  Sementara peran prajurit perempuan di bidang militer ialah mereka mempunyai kemampuan dalam menyusun strategi perang. Dengan adanya peran prajurit perempuan di bidang militer, Keraton Yogyakarta lebih terjaga keamanannya.  Keraton Yogyakarta juga merasa lebih nyaman dengan adanya prajurit perempuan, timbul rasa kepercayaan Sultan terhadap prajurit perempuan, sehingga kaum perempuan menjadi sosok yang lebih tinggi dan tangguh di lingkungan keraton Yogyakarta. Sumber : "PERANAN PRAJURIT PEREMPUAN (KORPS PRAJURIT ESTRI) TERHADAP PERKEMBANGAN EKONOMI DAN MILITER DI YOGYAKARTA 1750-18...

Pameran SUMAKALA - Kraton Jogja

Image